Powered By Blogger

Minggu, 31 Januari 2010

Yang Tertinggal

Menyusuri jalanan sendirian
Ditemani angin malam dan rintik hujan
Sejenak kutinggalkan rok dan sedan
Kukenakan jeans dan kets usang
Sekedar untuk mencari kenangan

Semua seakan hadir berurutan
Ketika kita berlari di bawah derasnya hujan
dan tertawa riang di antara angin yang berdesauan
Kala kita memadu harapan 
Akan indahnya hidup di masa depan

Kembali kulewati persimpangan
Tempat kita biasa berjalan bergenggaman
sambil menyenandungkan gita dalam alunan
Akan cinta yang kau titipkan

Menyusuri jalanan malam ini
Dinding-dinding art deco seakan bersaksi
Dengan merdu mereka bernyanyi
Tentang Cinta Yang Tak Pernah Mati






Bertahan Dalam Perih

Jika dan hanya jika
Suatu hari aku terbang tinggi meninggalkanmu
Jangan kau tutup sayap2ku dan memohonku untuk menoleh
pada hari terindah saat hati kita bertaut dalam janji
saat kau memelukku dalam harap terus kutemani
Jika dan hanya jika
Tuhan memutar balikkan waktu pada saat perjumpaan itu
takkan kusambut genggammu lebih erat
karena selalu kautepiskan belaianku sambil berpaling dalam senyummu
dan Kusadari...mencintaimu adalah harap tanpa balas
Jika dan hanya jika
Suatu hari kutemukan tempat berteduh
Jangan kau murkai peneduhnya
karena menggenggam jemariku saat aku terjatuh
dan membisikkan kata-kata indah dalam galauku
Jika dan hanya jika
Kita mau jujur pada masing-masingnya
Hari ini...kita hanya Bertahan Dalam Perih

*Postingan ini sudah pernah diterbitkan di Facebook saya dalam Catatan*

Suatu Hari di KebunKu

Pagi ini di kebunku yang indah... seperti biasa aku berkeliling untuk memeriksa keadaan bunga-bunga dan buah-buahan yang akan kupanen nanti siang. Memastikan bahwa tak ada hama apapun yang menyerang tanaman-tanamanku sehingga kuyakin hasil panenku berkualitas tinggi.
Selepas makan siang...kuambil keranjangku dan kupetik buah-buahan di kebun barat. Bahagianya hatiku ketika tahu hasil panenku berlimpah. Aku bersenandung...bernyanyi...tertawa bahagia seakan takkan ada beban di depanku. Aku berjalan...melompat...bahkan berlari  saking bahagianya melihat hasil jerih payahku selama delapan tahun.
Hari mulai sore ketika kurasakan angin dingin berhembus...semilirnya membawa aroma aneh yang seakan pernah kurasakan. Entah kapan dan dimana...De Ja Vu...begitulah pikirku. Tak kuhiraukan angin...aku terlena pada kebanggaanku akan kebunku. Tiba-tiba angin besar berhembus kencang... angin dari utara yang tak pernah kurasakan sedahsyat itu. Angin itu membawa aroma masa lalu yang kental dengan trauma. Aroma yang tadi hanya semilir kurasakan. Aku melawan arah angin dan mencoba menahan nafasku. Aku tak mau menghirup kembali aroma masa lalu yang didalamnya ada rasa trauma... trauma akan kesalahan masa lalu yang takkan pernah termaafkan. Namun angin itu terlalu kuat...aku dihempas ke sudut kebun...sekuat apapun aku melawan... angin itu tetap lebih kuat. Akhirnya aku terjatuh di sudut kebunku. Keranjangku yang penuh buah-buahan terlempar entah ke mana...kulihat buah-buahan dari keranjangku berserakan di tanah. Beberapa di antaranya bahkan hancur karena terbentur dengan sangat kerasnya.
Akhirnya aku menyerah... diam tak bergerak menahan deraan angin yang sangat kencang. Sekujur tubuhku sakit sekali...hatiku marah pada angin...namun aku hanya bisa diam membisu. 
Tanpa terasa angin pun beralun pelan...menghembus wewangian masa silam yang menyakitkan namun sangat kurindukan. Tak kusadari wajahku penuh dengan air mata... Ya,,aku menangis... hal yang sangat jarang kulakukan karena aku lebih sering tertawa karena bahagia. 
Perlahan aku bangkit dari jatuhku...kuseka air mataku yang tak jua mengering. Kuraih keranjangku dan kupunguti buah-buahan yang masih utuh. Sambil membersihkan pecahan buah-buahan yang hancur...kuhisap aroma yang dibawa hembusan angin sedikit-demi sedikit. Perlahan kenangan-kenangan itu muncul. Yang indah berpadu dengan yang menyakitkan...tapi tak mengapa...semua memang bagian dari hidupku...tak ada gunanya aku berlari menghindarinya karena toh semua akan kembali.
Lama aku merenung di beranda pondokku yang hangat. Kureguk kopi hangatku sambil menyeka air mataku yang tak berhenti mengalir. Sakit memang...ketika kita sudah susah payah melupakan masa lalu tapi tiba-tiba semua datang seperti sebuah invasi. Namun tak dipungkiri aku merindukan semuanya...
Sedikit-demi sedikit kusadari kesalahanku. Menghapus masa lalu sama halnya dengan menyetrika tatoo di tubuh kita. Sakit...perih...dan takkan berhasil. Sekuat apapun pasti akan menimbulkan bekas. Aku juga melupakan satu hal penting "Tak ada hasil di masa kini...selain karena deraan di masa lalu".
Keesokan harinya aku kembali ke kebunku...memeriksa bunga-bunga dan buah-buahan yang akan kupanen hari ini. Namun hari ini aku tak bernyanyi... tak bersenandung apalagi berlari... Sesekali aku melompat... lalu  berjalan sambil tersenyum ...menghirup udara pagi yang aromanya membawaku ke masa lalu. Terima kasih pada masa lalu yang sudah mau mampir ke kebunku...karena tanpa masa lalu...mustahil aku berdiri kuat dan berlari cepat. Walaupun dahulu aku pernah jatuh tapi itu anugerah Tuhan. Dia membuat kita jatuh supaya kita tahu cara untuk bangkit.