Powered By Blogger

Sabtu, 13 Februari 2010

"miskin...... takdir?? atau nasib??"

Suatu hari di awal Januari 2010... seperti biasa pagi itu saya berjalan dari tempat tinggal saya  di  Jl.Hj.Achsan ke  Jl.Hj.Kurdi yang jaraknya sekitar 1km,,  sekedar mencari roti manis dan kue-kue kecil untuk anak dan suami. Sangat menyenangkan berjalan di pagi hari bersamaan dengan pulang nya para penyapu jalan,, berbarengan dengan para ponggawa Polsek Regol yang akan apel pagi di halaman Polsek yang sempit,,sama-sama menyusuri jalan dengan para pedagang sayur keliling yang menjajakan dagangannya sepulangnya mereka dari pasar,, beriringan dengan para buruh cuci yang pagi itu membawa setumpuk pakaian yang sudah rapi disetrika untuk diantarkan pada para pelanggannya dan selanjutnya mengambil cucian-cucian kotor lainnya untuk selanjutnya disulap menjadi setumpuk pakaian siap pakai... begitu seterusnya. Semangat mereka menghembuskan udara perjuangan tanpa lelah yang kadang saya mengeluh kelelahan karenanya,, padahal hidup saya jauh lebih baik. Oleh karena itu sangat menyenangkan berjalan pagi hari ke jalan raya karena disanalah denyut kehidupan kota Bandung sangat terasa .Selain itu semangat hidup yang tinggi bisa menghadirkan inspirasi untuk kitadalam menjalani hidup ini.

Baru saja saya sampai ke depan jalan Hj.Achsan,,tiba-tiba seorang nenek renta mengenakan pakaian yang sangat tidak cocok atasan dan bawahannya menghampiri saya. Dibalik kerudungnya yang usang tapi bersih saya dapat memperkirakan usia nenek tersebut belum sampai 60th. Yaa...paling juga 55 tahunan.. tapi karena mungkin kehidupan yang dijalaninya sangat keras dan sulit menyebabkan wajah si nenek terlihat jauh lebih tua dari usianya. Beliau membawa sebuah kantong plastik yang sudah sangat kumal yang didalamnya ada beberapa bungkus keripik yang saya pun tak tahu itu keripik apa. Dengan sangat memelas beliau meminta saya membeli keripik yang ia bawa karena katanya uang yang dihasilkannya akan ia gunakan untuk pulang ke Tasikmalaya. Tanpa banyak bicara saya mengulurkan uang 10.000 rupiah dan lantas memohon diri. Nenek itu memberikan sebungkus keripik yang ia bawa pada saya namun saya tolak. Saya berfikir,, pemberian tadi ikhlas saja sebagai sedekah hari itu dan bila saya ambil bungkusan keripik itu pun pasti di rumah tak akan ada yang makan...sedangkan bagi si nenek keripik itu mungkin akan lebih berguna.

Kembali saya berjalan dan menyebrang ke Jl.Hj.Kurdi. Setelah sampai di toko kue dan membeli yang diperlukan saya pun bergegas keluar toko. Di seberang toko ada penjual bubur ayam keturunan etnis Tionghoa,,  di sebelahnya ada penjual bakso tahu - siomay yang juga etnis Tionghoa. Toko-toko di sepanjang jalan Hj.Kurdi pun hampir semuanya dimiliki oleh para pengusaha etnis Tionghoa termasuk toko kue yang saya masuki tadi. Beberapa pemilik toko nya saya kenal karena kami sering bertemu di tempat kebugaran. Walaupun Jl.Hj.Kurdi dan Jl.Hj.Achsan tempat tinggal saya mayoritas dihuni oleh warga etnis Tionghoa,,tapi pluralistik dan kebersamaan sangatlah kental terasa. Toleransi antar umat beragama yang sangat baik membuat kami sebagai muslim merasa sangat dekat dengan mereka. Di tempat penjual bubur ayam,, saya bertemu beberapa teman senam yang juga berasal dari etnis Tionghoa. Saya pun berhenti dan  bersalaman,, sekedar mengucapkan selamat tahun baru dan menanyakan kabar masing-masing. Sedang asyik kami bercakap-cakap,, tiba-tiba datanglah sebuah mobil sejenis T120ss berwarna hijau dengan spanduk didepannya bertuliskan "Mohon sumbangannya.Pembangunan Mesjid Al...... Majalaya". Mobil itu memakai pengeras suara dan dari pengeras suara itu keluarlah seruan pada masyarakat untuk memberikan sumbangan seikhlas nya dengan dalih pembangunan mesjid tadi. Mobil itu berhenti sejenak dan menurunkan serombongan lelaki remaja berpakaian koko dan berpeci. Mereka semua membawa kotak kecil yang dilubangi di atasnya sebagai tempat uang sumbangan yang mereka pinta pada semua orang yang berada di jalan itu. Sebagai seorang muslim saya sangat kaget bercampur malu. Saya merasa ditampar dengan keras ketika anak-anak remaja tadi meminta sumbangannya pada penjual bubur dan teman-teman saya yang saya tahu mereka itu non-muslim. Tak sedikit pun saya menoleh pada para remaja tadi saking malunya. Sementara teman-teman dan penjual bubur tadi memasukkan uang sekedarnya ke dalam kotak amal,, saya memalingkan muka. Sebagai muslim saya sangat sedih... Inilah sebabnya mayoritas Muslim dunia suka dihina oleh agama lain...karena perbuatannya sendiri yang meminta-minta pada pihak yang dirasa lebih kaya,, dengan merendahkan derajat dan martabat diri sendiri. Oknum-oknum muslim ini merendahkan harga diri mereka sekaligus muslim di seluruh dunia karena berdalih meminta bantuan mesjid yang entah benar atau tidaknya kita tak tahu. Namun jika pun benar cara penggalangan dana nya  bukan dengan meminta-minta pada orang-orang yang dianggap kaya. Allah sangat membenci orang yang malas dan selalu menengadahkan tangannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan saking bencinya Allah pada orang malas... Rasulullah SAW sampai membangunkan seorang pemalas dengan kakinya. Tentu tindakan Rasulullah ini tak bermaksud menghina. Beliau berbuat demikian untuk mencambuk si malas tadi agar bangun dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini saya menganggap peminta sumbangan pembangunan mesjid pun malas. Karena membangun masjid haruslah dengan swadaya masyarakat bukan dengan meminta-minta ke daerah lain yang diangap lebih mapan ekonominya. Sesulit apapun keadaan kita minta-minta adalah tindakan yang sangat tidak terpuji.

Setelah Rombongan itu mendapatkan uang yang mereka rasa cukup,, mereka pun pergi. Saya pun buru-buru meminta diri pada teman-teman saya karena matahari mulai naik. Sepanjang perjalanan ke rumah,, saya merenungkan hal-hal yang pagi ini saya temui. Mulai dari para penyapu jalan yang rela bekerja sepanjang malam demi menyambung hidup mereka dengan gaji yang tidak seberapa,, para pedagang sayur yang susah payah menjajakan dagangannya demi sedikit laba,, dan para buruh cuci yang mana kelelahan mereka tak sebanding dengan bayarannya. Saya pun teringat bapak-bapak yang bertugas di polsek Regol,, menjaga dan mengamankan daerah tugas mereka dengan taruhan nyawa,, belum menjaga para tahanan yang jumlahnya lebih banyak dari petugas piketnya. Orang-orang tadi  bekerja sepenuh hati tanpa mengenal lelah demi menyambung hidup keluarganya,, tanpa sedikitpun mereka menengadahkan tangan untuk sekedar meminta bonus. Saya pun teringat si nenek yang tak punya ongkos pulang ke Tasikmalaya. Yang saya tahu ongkos naik elf saja sudah 25 ribu.. belum naik angkot ke tempat elf,, mungkin saja turun dari elf masih harus naik kendaraan lagi. Jika ongkos yang diperlukan kira-kira 40-50.000,, maka si nenek harus berhasil mendapatkan tambahan uang,, karena uang yang saya beri hanya 10.000 rupiah saja. Dengan kondisi badan serenta itu ia tak sedikit pun menengadahkan tangannya dengan alasan apapun. Berbanding 360 derajat dengan rombongan remaja tadi.

Tak terasa sampailah saya di rumah. Tanpa banyak bicara saya menyiapkan makanan untuk keluarga. Belum lagi selesai di dapur.. bel berbunyi. Rupanya tukang bangunan yang biasa memperbaiki rumah kami jika ada kerusakan,, ia bermaksud meminjam uang untuk ongkos menengok anaknya yang diopname di rumah sakit. Mertua saya kerap kali memberi pinjaman padanya namun jika ia bekerja semua hutangnya selalu dianggap lunas. Ibu mertua agak kesal karena berulang kali beliau membutuhkan bantuannya,, Tukang Bangunan tadi tak pernah mau datang,, alasannya sedang tidak enak badan,, sedang lelah,, ada acara,, dan segudang alasan lain,, ia hanya mau datang saat ada keperluan saja. Sebaliknya istrinya adalah seorang pekerja keras yang bekerja shift malam di sebuah toko grosir dan  sibuk mengurusi suami dan 3 orang anaknya di siang hari tanpa cukup waktu untuk beristirahat.  Akhirnya mertua saya kalah oleh rasa iba. Diberikannya sejumlah uang dengan niat sedekah. Belakangan kami ketahui orang tadi hobi sekali mabuk-mabukan. Pernah suatu kali ia membantu membuat etalase untuk gerai milik kakak ipar,, sampai tengah malam. Ketika salah seorang pegawai kakak ipar mengontrol hasil pekerjaannya..... ia sedang bicara ngalor-ngidul dengan botol minuman beralkohol di tangannya. Aah... lagi-lagi kemalasan dan gaya hidup yang buruk menyebabkan kemiskinan. Jika Tukang Bangunan tadi rajin bekerja dan tidak hobi mabuk pasti ia akan bersikap profesional dalam pekerjaannya. Namun ia telah memilih jalan hidup nya. Jalan hidup sebagai pemabuk yang malas bekerja.

Dear Reader apa yang saya tulis diatas sama sekali tidak bermaksud menghina sekelompok orang,, sebaliknya hal-hal diatas adalah realita yang kita biasa temui dalam kehidupan sehari-hari. Kemiskinan sebenarnya bukan takdir,,tapi nasib,, hal yang takkan dirubah Tuhan jika kita sendiri tak mau merubahnya. Usaha yang dirangkai doa adalah hal wajib yang harus kita lakukan.. sisanya biarlah Tuhan yang mengatur,, karena setiap umat manusia sudah punya jatah rezeki masing-masing. Selama kita tidak malas,, terus berusaha dan berdoa... Insya Allah kita akan Survive dalam kehidupan ini. So,, Reader tetaplah meninggikan etos kerja dan tetaplah menengadahkan tangan pada Tuhan sebagai bentuk kepasrahan atas segala usaha kita... Keep Survive everyone...