I bury the hatchet with my own self
Making compromise with my alter ego
No more fight for tonight
So I can sleep tight and see him in my dreams
I bury the hatchet with my own self
About something I call it blind faith
No more arguing true and false
So I can see things clearly when the sunrise come
I bury the hatchet with my own self
To fight anxiety that may come
With realistic way of thinking
So I can rest my mind from the things no need to be thought
I bury the hatchet with my own conceited
Which makes the humble suddenly vanished
Beg the conceited not overcome my humble heart
So I can accept the destiny
I bury the hatchet with my own way of life
To show me just the right direction
and stop tempting me with fake happiness
So I can move to the place where I should be
I bury the hatchet with everything that happened in my life
I don't know it was blessing or punishment
I bury the hatchet with everything's written
Jumat, 03 Februari 2012
DARI KELINCI UNTUK RUSA SALJU
Rusa Salju,
Ke mana angin membawamu?
Ingin aku melihat kembali gagahnya langkahmu
dan gemerincing lonceng di kakimu
Apakah karena salju yang mulai mencair membuatmu berhibernasi?
Tapi bukankah rusa tak pernah berhibernasi?
Lantas di mana dirimu?
Haruskah kugoyangkan lonceng gereja, untuk membangunkanmu supaya kau kembali?
Ataukah kusulap cemara menjadi pohon terang, walaupun ini bukan malam natal
Hari ini hujan turun deras, tapi tanpa salju
Tak lagi kulihat benalu mistletoe tempat kita bermain di bawahnya
Aku meloncat kesana kemari menggapai dahan-dahan rendah yang akan membawaku ke puncak pohon mahoni
Aku ingin melihat keberadaanmu, sekedar memastikan engkau baik-baik saja
Kalau boleh, ingin juga kutitipkan rindu pada bunga Daisy yang mulai keluar kuncupnya
Semua terasa terlambat, tak seperti biasanya
Matahari tak hangat seperti awal musim semi
Awan hitam tak juga pergi
Bunga Daisy pun enggan mengembang
Februari yang aneh..
Aku merindukan November..
Saat kerincing lonceng kakimu meramaikan sarangku
Saat kekarnya tandukmu menghalau resahku
dan bulu-bulu tipismu menghangatkan udara
Aku ingin kembali ke Desember
Saat lonceng gereja berdentang dua belas kali
Saat semua pohon bernyanyi tentang malam yang sunyi
dan kau kabarkan kedatanganmu dengan loceng di kakimu
Pagi itu indah, saat kita bermain di atas lapisan salju
dan bercanda di bawah benalu mistletoe
Jika harus kumenunggu natal dan dua belas kali dentang lonceng gereja, akan kuhabiskan waktu memanjat lebih tinggi pohon mahoni
Agar dapat kulihat lagi langkah gagahmu menghampiriku
------Kelinci------
Ke mana angin membawamu?
Ingin aku melihat kembali gagahnya langkahmu
dan gemerincing lonceng di kakimu
Apakah karena salju yang mulai mencair membuatmu berhibernasi?
Tapi bukankah rusa tak pernah berhibernasi?
Lantas di mana dirimu?
Haruskah kugoyangkan lonceng gereja, untuk membangunkanmu supaya kau kembali?
Ataukah kusulap cemara menjadi pohon terang, walaupun ini bukan malam natal
Hari ini hujan turun deras, tapi tanpa salju
Tak lagi kulihat benalu mistletoe tempat kita bermain di bawahnya
Aku meloncat kesana kemari menggapai dahan-dahan rendah yang akan membawaku ke puncak pohon mahoni
Aku ingin melihat keberadaanmu, sekedar memastikan engkau baik-baik saja
Kalau boleh, ingin juga kutitipkan rindu pada bunga Daisy yang mulai keluar kuncupnya
Semua terasa terlambat, tak seperti biasanya
Matahari tak hangat seperti awal musim semi
Awan hitam tak juga pergi
Bunga Daisy pun enggan mengembang
Februari yang aneh..
Aku merindukan November..
Saat kerincing lonceng kakimu meramaikan sarangku
Saat kekarnya tandukmu menghalau resahku
dan bulu-bulu tipismu menghangatkan udara
Aku ingin kembali ke Desember
Saat lonceng gereja berdentang dua belas kali
Saat semua pohon bernyanyi tentang malam yang sunyi
dan kau kabarkan kedatanganmu dengan loceng di kakimu
Pagi itu indah, saat kita bermain di atas lapisan salju
dan bercanda di bawah benalu mistletoe
Jika harus kumenunggu natal dan dua belas kali dentang lonceng gereja, akan kuhabiskan waktu memanjat lebih tinggi pohon mahoni
Agar dapat kulihat lagi langkah gagahmu menghampiriku
------Kelinci------
TERSESAT
Aku tak tahu ada dimana, semuanya serba asing
Anehnya aku tak ingin keluar,mencari jalan dari labirin tak berujung
Dinding labirin ini begitu tebal,tinggi dan rapat
Tak menyisakan sedikitpun celah untukku melihat keluar
Aku berputar-putar,mengelilingi wahana tanpa ujung
Kepalaku entah dimana,karena kulihat hatiku jatuh namun tak dapat kuambil kembali
Otakku berputar didepan mataku, sementara mataku tertinggal di belakang badanku
Tanganku menggapai dinding hangat yang sebenarnya dingin
Kakiku berjalan tanpa mengenai lantai
Telingaku menangkap kesunyian yang mematahkan tulang-tulangku
dan hidungku mencium aroma keganjilan
Disaat semua inderaku seakan berkumpul, mereka saling bercerita tentang apa yang mereka lihat
Mataku paling cerewet, mereka bercerita tentang hal-hal indah yang ada di depan
Padahal labirin itu kosong
Otakku saja tak menangkap adanya tanda-tanda benda mati, apalagi mahluk bernyawa
Bibirku terkatup rapat, satu-satunya indera paling fleksibel dalam diriku seakan terkunci
Bibirku tak ingin lagi menambah cerita teman-temannya
Dia lelah akan sesuatu yang imajiner
Bibirku hanya ingin pulang
Ke rumah yang sama sekali tak pernah dia miliki
Anehnya aku tak ingin keluar,mencari jalan dari labirin tak berujung
Dinding labirin ini begitu tebal,tinggi dan rapat
Tak menyisakan sedikitpun celah untukku melihat keluar
Aku berputar-putar,mengelilingi wahana tanpa ujung
Kepalaku entah dimana,karena kulihat hatiku jatuh namun tak dapat kuambil kembali
Otakku berputar didepan mataku, sementara mataku tertinggal di belakang badanku
Tanganku menggapai dinding hangat yang sebenarnya dingin
Kakiku berjalan tanpa mengenai lantai
Telingaku menangkap kesunyian yang mematahkan tulang-tulangku
dan hidungku mencium aroma keganjilan
Disaat semua inderaku seakan berkumpul, mereka saling bercerita tentang apa yang mereka lihat
Mataku paling cerewet, mereka bercerita tentang hal-hal indah yang ada di depan
Padahal labirin itu kosong
Otakku saja tak menangkap adanya tanda-tanda benda mati, apalagi mahluk bernyawa
Bibirku terkatup rapat, satu-satunya indera paling fleksibel dalam diriku seakan terkunci
Bibirku tak ingin lagi menambah cerita teman-temannya
Dia lelah akan sesuatu yang imajiner
Bibirku hanya ingin pulang
Ke rumah yang sama sekali tak pernah dia miliki
DUNIA YANG TAK SEHARUSNYA KULIHAT
Berkelana di duniamu, bagaikan memasuki sebuah oase asing dalam imajinasiku. Duniamu yang tak terbatas langit membuatmu melanglang buana melintasi ruang dan waktu.
Dunia yang tak seharusnya kulihat, karena di sanalah segala harapan yang pernah kau bangun untukku sirna sudah.
Dunia yang tak memberiku ruang kecil untukku mendekat padamu.
Terlalu luas dan misterius, gelap dan mengantarkanku pada sebuah ruang yang menyilaukan.
Entah dari pintu mana dahulu engkau keluar dan menemukanku, membuatkan ruangan kecil bagiku yang dinamakan harapan.
Pintu itu membawaku masuk ke duniamu, dunia yang jauh dari duniaku dan menyesatkanku.
Tak ada niat ku masuk lebih dalam, namun daya magnetis ubin imajiner yang mengalasi duniamu seakan rawa yang menarikku semakin dalam.
Aku tertarik ke dalam duniamu hanya untuk bisa melihatmu lebih lama, karena di duniaku kau tak dapat menampakkan dirimu lama-lama.
Namun tak kutemui dirimu didalam duniamu, hanya jejak langkahmu yang kutemui.
Kuikuti dengan harapan menemukanmu, tapi hanyalah sinar kekecewaan yang kudapatkan.
Dunia yang tak seharusnya kulihat, di sanalah engkau seperti kilatan cahaya menyilaukan yang menyambar cermin-cermin di dindingnya.
Di cermin itu aku tak hanya menemukan bentuk diriku yang pucat kelelahan, sayu kebingungan, namun kulihat juga tangan-tangan yang dengan mesra mencumbuimu penuh hasrat.
Aku ingin kembali ke duniaku, dimana engkau dulu menemuiku.
Biar.. biarlah kita berjumpa hanya sebentar ataukan hanya dalam mimpi, asalkan tak tersesat diriku di duniamu.
Dunia yang tak seharusnya kulihat
Dunia yang tak seharusnya kulihat, karena di sanalah segala harapan yang pernah kau bangun untukku sirna sudah.
Dunia yang tak memberiku ruang kecil untukku mendekat padamu.
Terlalu luas dan misterius, gelap dan mengantarkanku pada sebuah ruang yang menyilaukan.
Entah dari pintu mana dahulu engkau keluar dan menemukanku, membuatkan ruangan kecil bagiku yang dinamakan harapan.
Pintu itu membawaku masuk ke duniamu, dunia yang jauh dari duniaku dan menyesatkanku.
Tak ada niat ku masuk lebih dalam, namun daya magnetis ubin imajiner yang mengalasi duniamu seakan rawa yang menarikku semakin dalam.
Aku tertarik ke dalam duniamu hanya untuk bisa melihatmu lebih lama, karena di duniaku kau tak dapat menampakkan dirimu lama-lama.
Namun tak kutemui dirimu didalam duniamu, hanya jejak langkahmu yang kutemui.
Kuikuti dengan harapan menemukanmu, tapi hanyalah sinar kekecewaan yang kudapatkan.
Dunia yang tak seharusnya kulihat, di sanalah engkau seperti kilatan cahaya menyilaukan yang menyambar cermin-cermin di dindingnya.
Di cermin itu aku tak hanya menemukan bentuk diriku yang pucat kelelahan, sayu kebingungan, namun kulihat juga tangan-tangan yang dengan mesra mencumbuimu penuh hasrat.
Aku ingin kembali ke duniaku, dimana engkau dulu menemuiku.
Biar.. biarlah kita berjumpa hanya sebentar ataukan hanya dalam mimpi, asalkan tak tersesat diriku di duniamu.
Dunia yang tak seharusnya kulihat
Langganan:
Postingan (Atom)
