Berkelana di duniamu, bagaikan memasuki sebuah oase asing dalam imajinasiku. Duniamu yang tak terbatas langit membuatmu melanglang buana melintasi ruang dan waktu.
Dunia yang tak seharusnya kulihat, karena di sanalah segala harapan yang pernah kau bangun untukku sirna sudah.
Dunia yang tak memberiku ruang kecil untukku mendekat padamu.
Terlalu luas dan misterius, gelap dan mengantarkanku pada sebuah ruang yang menyilaukan.
Entah dari pintu mana dahulu engkau keluar dan menemukanku, membuatkan ruangan kecil bagiku yang dinamakan harapan.
Pintu itu membawaku masuk ke duniamu, dunia yang jauh dari duniaku dan menyesatkanku.
Tak ada niat ku masuk lebih dalam, namun daya magnetis ubin imajiner yang mengalasi duniamu seakan rawa yang menarikku semakin dalam.
Aku tertarik ke dalam duniamu hanya untuk bisa melihatmu lebih lama, karena di duniaku kau tak dapat menampakkan dirimu lama-lama.
Namun tak kutemui dirimu didalam duniamu, hanya jejak langkahmu yang kutemui.
Kuikuti dengan harapan menemukanmu, tapi hanyalah sinar kekecewaan yang kudapatkan.
Dunia yang tak seharusnya kulihat, di sanalah engkau seperti kilatan cahaya menyilaukan yang menyambar cermin-cermin di dindingnya.
Di cermin itu aku tak hanya menemukan bentuk diriku yang pucat kelelahan, sayu kebingungan, namun kulihat juga tangan-tangan yang dengan mesra mencumbuimu penuh hasrat.
Aku ingin kembali ke duniaku, dimana engkau dulu menemuiku.
Biar.. biarlah kita berjumpa hanya sebentar ataukan hanya dalam mimpi, asalkan tak tersesat diriku di duniamu.
Dunia yang tak seharusnya kulihat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar